Jadilah Dokter Gigi
Laris manis adalah dambaan setiap orang, tak terkecuali dokter. Banyak pilihan ditawarkan, mulai dari dokter gigi sampai dokter kandungan.
Secara metalogika (matematika campur logika), jadi dokter gigi adalah pilihan yang paling bijaksana sekaligus cerdas. Dengan jumlah tiga puluh sekian, gigi manusia sangat berpotensi untuk sakit.
Ini sangat beda dengan jumlah kandungan atau jantung manusia yang cuman satu. Telinga dan mata juga tak lebih dari dua eksemplar.
Secara teori peluang alias ekspektasi, frekuensi sakit gigi jauh lebih tinggi daripada sakit jantung, sakit mata atau sakit perut. Tiga puluh satu gigi yang lain boleh sehat, tapi satu gigi saja sakit, sakit gigilah orang itu. Mau 1 atau 2, yg namanya sakit gigi rasanya sama. Suakiiiittttt!!.
Ini maknanya, dokter gigi jauh lebih laris ketimbang dokter apapun, dimanapun dan kapanpun. Yang pernah belajar matematika pasti tau bahwa frekuensi harapan adalah nilai peluang dikalikan banyaknya obyek atau percobaan.
Andai gigi diberi nomor urut, dan andai pula sebulan sekali ada giliran gigi sakit, maka dalam waktu dua setengah tahunpun belum semua gigi dapat giliran…
Contoh sederhana…
Andai kita punya 32 ayam dan tetangga kita hanya punya seekor, maka bisa diduga bahwa kita lebih sering mendapati ayam kita sakit ketimbang tetangga kita.
Oleh karena itu layak dipertimbangkan, andai pengin jadi dokter, jadilah dokter gigi saja. Bukan dokter kandungan, bukan pula dokter mata. Tapi sekali lagi perlu dicermati bahwa ini adalah tinjauan metalogika. Masih banyak parameter lain yang wajib dijadikan acuan. Dokter gigi tak hanya nyabut gigi, tapi juga merawat gigi.
<semoga>kita tidak sakit gigi atau sakit mata</semoga>























mending jadi tukang potog raMBUT tanpa mendoakan orang lain sakit
[Reply]
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
Bisa jadi saingan Bundo, dong…
[Reply]
Kok (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?! milik saya hilang, ketangkep satpam ya?
[Reply]
oh… ternyata (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?! milik saya gak hilang. Mungkin browser saya…
[Reply]
Jangan sampe deh Pak Mars, sakit gigi, sakitnya lebih dari sakit hati.
*ngumpet dari Bundo, karena kalo mendoakan setiap orang jangan sakit gigi, nanti Bundo kebanyakan ngeblog*
[Reply]
Tumben ini sayah di 5 besar.
*menari merayakan*
[Reply]
<wkekkkkekkk>Semoga Pak Maaars</gubraakkk>
Menurut aku lebih enak jadi guru matematika yang bisa utak atik kata. Yang dalam sekejap dapat ide langsung bisa dituangkan.
@nunik: mohon doanya selalu semoga kesehatan gigi masyarakat meningkat sehingga pasien puskesmas berkurang, yang tentu akan berdampak bagus untuk jadwal online bundo.
[Reply]
Jadi tukang tambalpun enak Mas
[Reply]
Nyambung gak yah ?
[Reply]
kenalkan, saya dokter cinta…..
[Reply]
daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini….
biar tak mengapa…
rela..rela..
rela aku relakan…
rela..rela..
rela aku rela…
[Reply]
wa..kelihatannya kenak sepam
[Reply]
semoga kita sehat sehat selalu…
salam,
[Reply]
ehmm comment pertama masuk spam hehe
[Reply]
sebulan satu gigi yang sakit… *urip kok yo sengsoro men..*
[Reply]
gigi saya yg satu ini langganan ke dokter…padahal lainnya blm dpt giliran..tp gak ngarep arep lho pak…
[Reply]
kalo hewan bisa sakit gigi gak ya..pernah lihat blm pak?
[Reply]
hahahahaha…… saya ndak mau ah jadi dokter gigi.. soalnya gigi say sendiri aja udah jelek, mosal masil, ntar apa kata pasien???
[Reply]
Mr. Mrsud pasti sekarang lagi senut2 ya giginya… ??
[Reply]
sakit koneksi bikin gemesgak bisa ngeblog banget. Koneksi lancar lantas sakit gigi duh makin sakit giginya karenajadi gemes he he. Jadi jangan ambil peluang sakit gigi Pak
[Reply]
Wah…saya belum pernah sakit gigi dan jangan sampai deh, jadi blm pernah ngasih rezeki sama dokter gigi.
[Reply]
kata Bundo enakan jadi guru matematika ya, saya kok malah minta istirahat dari guru matematika
[Reply]
masih sehat pak
[Reply]
kayaknya dokter anak lebih laris pak
[Reply]
kenapa ya aku kok senyum-senyum lihat balasan komeng warna merah itu? Bu Mars sejak kapankah mr.M yang ini jadi centil?
[Reply]
ide bisa datang dari mana aja ya om! tapi lantaran ketiadaan waktu ide tersebut hilang….. andai punya PC betapa senang hatiku….
[Reply]
analisa yang mangsteb
tapi pak, sekolah untuk jadi dokter gigi pun ga kira2 lamanya,
blom lagi biayanya, abis itu klo mo praktek pun, peralatannya mahal,
klo ndaptar jadi dokter gigi di rumkit pun nasib2an jugah,
terus? gimana dong? xixixi …*sengaja diribetin*
[Reply]
Blognya bagus sekali nih pak. Salam kenal dari Semarang. Ini pendatang baru pak. Saya nggak pengin jadi dokter, tapi pengin jadi suaminya pak dokter. Dolan ke tempatku ya pak.
[Reply]
Jadi dokter kandungan boleh aja, yang lebih penting lagi jangan jadi dokter gadungan pak.
[Reply]
metalogika sempurna…
*gedheg2 karo manthuk2*
[Reply]
lha itu kalo dihitung dari jumlahnya kang.. kalo dihitung dari tingkat kevitalan si organ?
[Reply]
kalau dokter giginya secantik dan sebaik Bundoku cay, maka saya rela sakit gigi, tapi sekali saja, jangan sering2.
walaupun gak musuhan sama dokter gigi, namun tiap kali masuk ke tempat prakteknya selalu deg2an dan mendadak panas dingin.
salam.
[Reply]